7 Sastrawan Indonesia Yang Melegenda!

Berikut beberapa sastrawan Indonesia yang melegenda!

Featured-Image
Sapardi Djoko Darmono

EMPATPAGI.COM- Selain dari citra kulinernya yang mendunia, Indonesia juga terkenal karena budayanya yang sangat beragam. Salah satu bentuk budaya tersebut adalah sastra, dari generasi ke generasi Indonesia selalu memiliki sastrawan yang menghasilkan karya-karya yang sangat bermakna dan melegenda. Dan beberapa sastrawan tersebut adalah sebagai berikut!

7. W. S. Rendra

W. S. Rendra
W. S. Rendra

Siapa yang tak kenal W. S. Rendra, sewaktu di Sekolah Dasar buku-buku bahasa Indonesia pasti penuh dengan karya-karyanya. Tentunya karena karya-karya sastrawan asal Solo kelahiran 1935 itu punya pengaruh besar terhadap kesusastraan Indonesia. Meski demikian, ia disebut-sebut tak masuk pakem angkatan ‘45, '60-an, atau '70-an. Karyanya berpatokan menurut kebebasannya sendiri. Ia menggubah puisi atau karya-karyanya dengan jahitan kata yang rapi dan apik dibaca maupun didengar.

6. Wiji Thukul

Wiji Thukul
Wiji Thukul

Wiji Thukul adalah penyuara aspirasi kaum akar rumput, yang hilang tanpa tau rimbanya. Widjhi Thukul, lewat karya-karyanya menggemborkan perlawanan terhadap rezim Orde Baru (ORBA). Tulisannya menggugah semangat masyarkat yang tertindas. Sastrawan asal Surakarta ini kemudian dinyatakan hilang di usia 34 tahun. Tak tahu, saat ini masih hidup atau telah bersatu dengan alam.

Baca: 5 Fakta Menarik dari Sang Merah-Putih, Bendera Negara Indonesia!

5. Joko Pinurbo

Joko Pinurbo
Joko Pinurbo

Joko Pinurbo lah yang mengemukakan jarak itu sebenarnya tak pernah ada, sebab, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Sastrawan kelahiran pulau Pelabuhan Ratu, Jawa Barat ini melahirkan karya-karya yang memadukan antara unsur naratif, ironi refleksi diri, dan tak jarang membubuhkan unsur ‘nakal’. Ia telah menggeluti puisi sejak remaja dan mulai menulis semenjak usia 20-an.

4. Chairil Anwar

Chairil Anwar
Chairil Anwar

Chairil Anwar, seorang penyair yang melegenda di Indonesia, ia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" karena salah satu karyanya yang berjudul "Aku." Bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. Ia meninggal pada tahun 1949 di usia yang masih sangat muda, 26 tahun.

Lahir dan dibesarkan di Medan, ia bersama ibunya pindah ke Batvia (Jakarta) pada tahun 1940. Sejak saat itulah ia mulai menggeluti dunia sastra. Namanya mulai dikenal setelah puisinya yang berjudul Nisan dipublikasikan pada tahun 1942.

Puisi yang ditulisnya menyangkut berbagai tema seperti pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme. Gak cuma di kenal di Indonesia, karya-karyanya juga di kenal di berbagai belahan dunia dan telah diterjemahkan dalam bahasa asing.

3. Damiri Mahmud

s
Damiri Mahmud

Damiri Mahmud merupakan sastrawan Indonesia, yang meninggal pada usia 74 tahun di kota kelahirannya, Sumatra Utara pada tahun 2019. Tulisan-tulisannya yang berupa artikel budaya, politik, dan agama, tersebar di berbagai harian dan majalah di Indonesia hingga ke Malaysia.

Damiri Mahmud kemudian membukukan 59 puisinya dalam buku kumpulan puisi perseorangannya berjudul Damai di Bumi: Kumpulan Sajak yang diterbitkan oleh Kanwil Deparsenibud Sumatera Utara dan Hotel garuda Plaza Medan (2000).

Baca: Fashion: Mengenal 7 Motif Batik Indonesia Yang Mendunia!

2. Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Biasa disingkat GM. Ia adalah sastrawan, juga budayawan, yang berpandangan liberal. Pemikirannya yang terbuka tentu berpengaruh terhadap karya-karyanya. GM banyak menulis sajak. Tak hanya sajak, ia juga menulis banyak karya sastra. Pendiri, yang kini menjadi komisaris Tempo ini telah menulis sejak ia berusia 17 tahun. Ia kini masih aktif menulis Catatan Pinggir di majalah Tempo. Sajak-sajaknya dengan berjuta perbendaharaan kata membuat pembaca jatuh hati.

1. Sapardi Djoko Darmono

Sapardi Djoko Darmono
Sapardi Djoko Darmono

Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan yang lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940. Sapardi meninggal pada usianya yang genap 80 tahun. Penyair yang mulai aktif menulis sejak duduk di bangku SMP ini, pernah menjabat sebagai dekan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada periode 1995-1999.

Syair-syair pada setiap puisi yang ditulisnya selalu mengena di hati para pembaca, seperti dalam Hujan Bulan Juni, Aku Ingin, Akulah si Telaga, Pada Suatu Hari Nanti, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari.

Gak cuma berbakat dalam menulis puisi, Sapardi juga berbakat menjadi penerjemah. Beberapa karya dalam bahasa asing yang pernah ia terjemahkan ke bahasa Indonesia yaitu, The Old Man ad the Sea karya Hemingway dan Daisy Milles karya Henry James.

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensium