Keuangan Syariah

Apakah Hidup Untuk Uang Termasuk kesyirikan?

Berbagai macam cara akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang.

Featured-Image
Muslims praying on Friday in Dubai. The congregation has spilled onto the road outside of the mosque. (Unsplash/Levi Clancy)

EMPATPAGI.COM -Etika kerja "waktu adalah uang" telah membawa banyak manusia hanyut untuk melakukan berbagai macam cara untuk mengejar apa yang dinamakan uang.

Etika kerja keras hanyut menjadi prinsip pentingnya dewa uang dalam aktivitas mereka.

Mengapa "Hidup Untuk Uang" Mendapat Murka Allah SWT

A. Menjadi Budak Uang

Mereka tidak peduli siang ataupun malam, waktunya disibukkan untuk mencari uang. Yang penting uang datang, norma dan etika tidak dipertimbangkan.

Norma susila tidak dihiraukan, ada wanita melelang kehormatan, menjatuhkan martabat karena uang. Seakan- akan hidup untuk uang dan menjadi kaya.

Ada cuplikan lagu/sajak:

“Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi, lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi.”Semua demi mencari uang.

B. Mencari Jalan Lain Selain Pertolongan Allah SWT

Ada pedagang, pekerja, pengusaha, dan orang hebat berusaha mencari peramal hidup paranormal bertanya kemana uang akan dikejar.

Baca: Bagaimana Bisnis dan Investasi Terbaik Menurut Al-Quran?

Anehnya mereka mencari berkah di makam dan kuburan, untuk mendapatkan hujan uang dan penghasilan banyak mendadak karena ingin jalan hidup yang disangka beruntung.

Mereka berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesajen, meminta ke selain Allah SWT. Maka kecelakaan yang besar bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.”(Al-Baqarah: 79)

C. Celakalah Budak Dunia, Awas Murka Allah SWT

Kata “budak”telah dipakai oleh Rasulullah SAW untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia di dalam sebuah sabdanya. Beliau mengatakan:

“Celaka budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha dan bila tidak diberi dia murka.”(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah)
Ibnu Hajar berkata: “Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi, dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak."

Baca: Ini 5 Keuntungan Investasi Emas, Cocok Buat Investor Pemula

Ath-Thibi berkata: ‘Dikhususkan kata budak untuk menggelarinya, karena dia berkubang dalam cinta kepada dunia serta segala bentuk syahwatnya, layaknya seorang tawanan yang tidak memiliki upaya untuk melepaskan dirinya.'
"Rasulullah SAW tidak mengatakan pemilik, tidak pula orang yang menghimpun dinar, karena yang tercela adalah mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan.”(Fathul Bari)

Allah SWT menjadikan- ya sebagai budak dinar dan diharam karena kerakusan serta semangatnya untuk mendapatkannya.

Barangsiapa menjadi budak hawa nafsunya, maka dia tidak akan bisa mewujudkan pada dirinya makna ayat

"Hanya kepada-Mu lah kami beribadah." Orang yang seperti ini sifatnya tidak akan menjadi orang shadiq (terpercaya).Dan dinamakan keduanya (dinar dan dirham), karena keduanya adalah asal harta benda dunia berikut segala kenikmatannya (Tuhfatul Ahwadzi).

Baca: Keuntungan dan Cara Investasi Emas di Tokopedia, Cocok untuk Millenials

Apabila diucapkan suatu kezaliman, kedustaan, dan hal yang dibenci oleh Allah SWT, maka orang yang beriman akan membencinya. Demikian juga kondisi pencari harta –dengan cara yang batil–sebagaimana firman Allah SWT:

“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam hal shadaqah. Jika mereka diberi mereka senang dan jika tidak diberi mereka benci.”(At-Taubah: 58)

Mereka itulah yang telah disebut oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau:

‘Celaka budak dinar’.”(Az-Zuhd wal Wara’wal ‘Ibadah)

Dialah budak semua hal ini. Jika dia memintanya kepada Allah SWT lantas diberinya, dia ridha. Jika Allah tidak memberinya, dia akan murka.

D. Carilah Ridho Allah SWT Dalam Hidup

Hamba Allah sejati ialah orang yang membuatnya ridha semua yang membuat Allah ridha, dan membuatnya murka apa-apa yang membuat Allah SWT murka.

Dia mencintai apa yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, serta akan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dia berloyalitas kepada wali-wali Allah SWT dan menentang musuh-musuh-Nya.Inilah yang menyempurnakan iman.

Sebagaimana di dalam hadis dikatakan:

“Barangsiapa cinta karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena-Nya dan tidak memberi juga karena-Nya, maka dia telah menyempurnakan iman.”Disamping itu,
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”(Al-‘Ubudiyyah)

Baca: Jangan Mulai Inventasi Sebelum Kenali 5 Jenis Investasi ini

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensi.xyz