Melihat Arti Cinta Sejati Dari Buku The Art of Loving Karya Erich Fromm

Pas banget, nih, buat para pujangga cinta!

EMPATPAGI.COM- Jadi, gue tertarik banget sama salah satu buku Erich Fromm yang berjudul The Art of Loving, isinya tentang hakikat dari mencintai secara universal. Akhirnya gue baca juga, deh, meskipun bahasanya sedikit rumit (karena termasuk buku psikologi), dan ada beberapa istilah yang kurang gue pahami, gue akhirnya juga bertanya sama teman-teman biar gak salah tafsir, haha. Pokoknya kalian harus baca buku ini karena sangat worth it!

Siapa, sih, Erich Fromm?

Erich
Erich Fromm

Gue gak bakalan bahas semua satu buku, karena gak mungkin, gue menyarankan kalian buat baca bukunya juga, mungkin disini gua bakal bahas beberapa kutipan yang menurut gue bagus dan menarik. Sebelumya kita kenalan dulu sama bapak Erich Fromm, ya. Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900. Ia belajar psikologi dan sosiologi di University Heidelberg, Frankfurt, dan Munich. Setelah memperoleh gelar Ph. D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar psikoanalisis di Munich dan pada Institut psikoanalisis Berlin yang terkenal waktu itu. Tahun 1933 ia pindah ke Amerika Serikat dan mengajar di Institut psikoanalisis Chicago, lalu Erich melakukan praktik privat di New York City. Ia pernah mengajar pada sejumlah universitas dan institut di Amerika dan di Meksiko. Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980.

Dan beberapa karya Erich Fromm yang sangat terkenal adalah The Art of Loving, Escape from Frreedom, Man of Himself, dan masih banyak yang lainnya.

Apa itu Cinta?

Unsplash/Nathan Dumlao
(Unsplash/Nathan Dumlao)

Sebelum mengutip tentang cinta sejati, sebenarnya cinta itu apa sih? Buat kalian yang baru merasakan tentang cinta mungkin kalian bakalan jawab “Ya sayang, lah, sama pacar, gue bakal ngasih apapun ke dia”atau “perasaan gue sama dia menjadi satu.”Yah, pokoknya beberapa jawaban umum seperti itu, dan sebenarnya jawaban itu ga sepenuhnya salah, dan sepenuhnya benar. Sebagai contoh ketika lu bilang “ngasih apapun ke dia”apa itu termasuk hal-hal yang terpaksa lu kasih? Apa itu juga valid ketika pasangan lu meminta hal-hal yang negatif? Apa dia juga sepemikiran dengan lu dengan memberi apapun yang dia miliki untuk lu? Silahkan kalian simpan jawaban kalian saat ini di dalam hati kalian, karena saat ini kita akan sedikit mengupas hal-hal tersebut di dalam artikel ini.

Baca: 5 Cara Ampuh Membuat Pria Jatuh Cinta Lewat Chat

Cinta merupakan Eksistensi dari Manusia

Teori apapun tentang cinta harus dimulai dengan teori tentang manusia, eksistensi manusia. Manusia dianugerahi dengan rasio nalar, ia adalah makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya, ia mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, dan kemungkinan masa depannya.

Person On A Bridge Near A Lake
Person On A Bridge Near A Lake (Pexels.com/Simon Migaj)

Kesadaran akan diri sebagai entitas yang terpisah, kesadaran akan jangka hidupnya yang pendek, akan fakta bahwa ia lahir dan mati bukan karena kehendaknya, bahwa ia akan mati sebelum mereka yang ia cintai, atau mereka mati lebih dulu sebelum dirinya, kesadaran akan kesendirian dan keterpisahannya, akan ketidak berdayaannya terhadap kehidupan alam dan masyarakat, semua ini membuat eksistensi dirinya terpisah dan terpecah menjadi penjara yang tak tertahankan. Ia akan mengalami gangguan kejiwaan jika tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu dan keluar, dan menyatukan diri dalam bentuk apapun dengan manusia lain, dengan dunia luar. Kesadaran akan keterpisahan inilah yang menimbulkan munculnya rasa cinta pada diri manusia.

Cinta Sejati didasari dari pemberian!

Photo Of Mother Kissing Her Baby
Photo Of Mother Kissing Her Baby (Pexels.com/Katie E)

Cinta adalah keaktifan atau kita sebut aktivitas, bukan sesuatu yang pasif atau sesuatu yang tidak bisa dikuasai oleh pikiran kita. Lalu apa karakter aktif cinta? Yang paling umum ya tadi perkataan “Gua bakal ngasih apapun ke dia.”Yup, “memberi”, bukan “menerima.”Trs apa, sih, yang dimaksud dengan memberi? Nah, disini banyak orang salah paham. Memberi bukan berarti kita menyerahkan, pasrah, terampas, berkorban, bukan memberi apapun yang membuat kita sakit.

Apa yang manusia berikan pada sesamanya atau orang yang dikasihinya? Dia mencurahkan dirinya yang paling berharga, dia mengabdikan hidupnya. Bukan berarti mengorbankan dirinya seperti masokisme, tetapi memberikan, berbagi hal-hal bermanfaat yang berada di dalam dirinya;kegembiraan, perhatian, canda, kesedihan, seluruh ungkapan yang ada di dalam kehidupannya. Maka disaat itu juga ia memperkaya orang lain. Dia memberi bukan karena ingin menerima, melainkan karena ia merasa senang dengan hal yang ia berikan, dan di dalam pemberian yang tulus, dia pasti memperoleh apa yang dikembalikan padanya.

Saat kita saling memberi maka sesuatu akan tercipta, dan kedua orang yang saling memberi ini akan bersyukur atas kehidupan dan perasaan saling mencintai yang tercipta bagi mereka berdua. Cinta adalah kekuatan yang menghasilkan cinta juga. Ketika kita berperan sebagai pemberi tetapi ia tidak ingin berperan sebagai pemberi juga dan hanya ingin menjadi penerima, maka tidak akan pernah ada kebahagiaan dan cinta yang akan tercipta bukan? Jadi, menurut Fromm salah satu komponen terpenting cinta adalah memberi.

Cinta Sejati adalah Seni!

Love in the mountains
Love in the mountains (Unsplash/Oziel Gómez)

Kalau cinta lu ga menghasilkan cinta juga, kalau lu adalah orang yang mencintai seseorang tapi itu ga membuat lu sebagai orang yang dicintai, ya, artinya itu bukan cinta. Tapi tentunya, tingkatan makna cinta memberi ini dalam hal yang produktif, ya. Artinya bergantung pada perkembangan karakter seseorang itu sendiri, yaitu ketika ia mampu mencapai orientasi produktif. Sementara selain komponen memberi, komponen aktif cinta yang lainnya ialah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.

Perlu kalian ingat menurut Erich cinta adalah seni. Jika lu mau main biola lu harus belajar terus menerus supaya bisa menghasilkan ritme yang merdu. Jika lu mau menikmati seni, lu harus terlatih dalam seni tersebut. Cinta adalah bagian esensial dari seni yang bernama hidup. Cinta bukan hanya tentang “dicintai”tetapi juga tentang “mencintai”dan inilah yang jadi masalah buat para milenials sekarang “bagaimana ya agar gua bisa dicintai sama orang?”(to be loved), dan akhirnya banyak orang yang cuman mencipatakan dirinya agar semenarik mungkin supaya dicintai, terbawa trend hingga mengikuti berbagai kasta kehidupan sosial, hingga akhirnya tenggelam tanpa arah dan kepastian di dalam itu semua sehingga tidak mendapatkan apa yang ia harapkan, apalagi mendapatkan hakikat cinta yang sesungguhnya ataupun ketulusan cinta itu sendiri.

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensium