Operasi Perusahaan UMKM Sampai Dengan Perusahaan Raksasa Terkena Dampak Pandemi.

Dimasa pandemi, sangat beruntung jika masih memiliki pekerjaan atau perusahaan kita masih beroperasi.

Semua perusahaan dari yang kecil, menengah dan besar banyak sekali yang terkena dampak.

Pengangguran angkanya tinggi sekali, dari 160 juta tenaga kerja diperkirakan 40 juta tidak mempunyai pekerjaan. Penghasilan menurun dan pendapatan per kapita terjun bebas.

Kalau bisnis anda atau perusahaan tempat anda bekerja masih beroperasi anda beruntung. Kita menghadapi Pandemi yang dahsyat dan tidak terkontrol.

Tahun 2020 adalah tahun tantangan bagi hampir semua sektor ekonomi dan tahun tantangan bagi semua korporasi tanpa terkecuali.

Dampak Pandemi Terhadap Operasi Perusahaan

1. Ribuan UMKM Perlu Bantuan

Kuliner Jakarta
Kuliner Jakarta

Ribuan toko dan UMKM menutup usahanya karena macetnya ekonomi. Macetnya ekonomi karena terbatasnya mobilisasi masyarakat yang disebabkan sistim isolasi yang tidak terelakan.

Sebanyak hampir 50% persen usaha mikro. kecil, dan menengah (UMKM) harus gulung tikar karena terdampak pendemi virus corona Covid-19.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga riset UMKM, wabah virus Corona memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan jalannya usaha UMKM.

Baca: Opsi Hidangan Lokal Menjadi Budaya Kuliner Dampak Pandemi

UMKM pada saat ini harus menghadapi masalah yang cukup besar. Diperkirakan hampir 50% UMKM berhenti beroperasi.

Kebanyakan UMKM mengalami masalah kesehatan arus kas keuangan, sehingga harus merumahkan tenaga kerjanya.Sementara itu, pelaku UMKM terkendala dari sisi pasokan dan distribusi karena terganggunya mobilisasi dan sistim distribusi selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, terjadi pelemahan dari sisi permintaan karena daya beli menurun.

2. Perusahaan Raksasa Terkena Dampak Resesi Pandemi

Las Arenas Einkaufszentrum in Barcelona
(Unsplash/WeLoveBarcelona.de)

Di luar negeri, industri besar terutama barang mewah sangat berat terkena dampak, diantaranya:

  1. Victoria's Secret
  2. Zara
  3. Channel
  4. Hermes
  5. Patek Philippe
  6. Rolex
  7. Nike
  8. Starbuck
  9. JC Penney
  10. Dan lainnya di hampir seluruh dunia.

Dikabarkan Warren Buffet, investor terbesar dunia mengalami kerugian $50 Milyar dalam 2 bulan terakhir pertengahan 2020.

Perusahaan Investasi terbesar dunia BlackRock menyatakan ekonomi dunia dalam keadaan kritis, padahal mereka menguasai US$7 triliun uang pihak ketiga.

"Mall America" yang terbesar di Amerika Serikat tidak lagi bisa membayar cicilan pinjamannya. Ini disebabkan bisnis tidak berjalan yang berarti tidak ada pendapatan.

Baca: Model Bisnis Perusahaan Dan Perbankan Untuk Kemanusiaan di era Pandemi Covid -19

Di Indonesia perusahaan ritel "Ramayana" pada awal April 2020 mengumumkan sejumlah besar karyawannya dikabarkan terkena pemutusan hubungan kerja.

Beberapa waktu lalu, sebanyak ratusan pekerja rumah makan KFC di Pulau Jawa dirumahkan. Ini terjadi karena memang gerainya banyak ditutup dan tidak dapat beroperasi. Yang masih buka juga ada tetapi tutup untuk layanan "dine-in."

3. Perusahaan Penerbangan, Perjalanan Dan Akomodasi Tergilas

Unsplash/Patrick Tomasso
(Unsplash/Patrick Tomasso)

Perusahaan "AirBnb mengatakan karena pandemi, perusahaan yang sudah berjalan 12 tahun hancur begitu saja dalam 6 minggu di tahun 2020.

"Hertz" perusahaan sewa mobil terbesar dunia menyatakan bangkrut. Mereka adalah perusahaan kuat yang juga pemilik perusahaan sewa mobil "Thrifty and Dollar" yang terkenal di dunia global.

"Emirate Air" salah satu perusahaan penerbangan udara terkaya telah mem-PHK-kan 30% karyawannya. Terasa sekali dampak pandemi COVID-19 terhadap industri penerbangan.

Saking parahnya, total pergerakan pesawat dan jumlah penumpang di seluruh bandara di Indonesia sempat menurun nyaris 90% dalam jangka waktu satu bulan saja.

Baca: Konsumsi vs Investasi Di Masa Resesi Pandemi

Kalau melihat datanya, sektor ini memang terdampak cukup besar mulai dari bulan Februari 2020. Waktu pemberlakuan larangan atau pembatasan gerak seperti pembatasan larangan mudik, trafik jauh menurun. Bulan Mei trafik turun menyentuh titik nadir.

Jumlah penumpang dan penerbangan paling rendah terjadi pada akhir April hingga awal Mei 2020. Pada April 2020, tercatat total penumpang hanya mampu mencapai seribu sehari. Angka ini jauh dibanding dengan total penumpang awal Maret 2020 lalu yang masih mampu mencapai 250 ribu orang sehari.

Jumlah pergerakan penumpang selama Agustus 2020 baru melonjak dibanding dengan pergerakan pergerakan sebelumnya.

Traveloka juga tidak luput terkena imbas dari pandemi virus corona. Perusahaan ini dikabarkan akan memberhentikan sebagian besar stafnya. Pandemi ini menurunkan permintaan orang untuk bepergian. Faktor ini menjadi salah satu penyebab dari tindakan yang diputuskan oleh Traveloka.

Perusahaan perhotelan "Airy" mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah mengancam keberlangsungan hampir seluruh sektor bisnis, terutama pariwisata.

Baca: 5 Jurus Sukses Membangun Bisnis FinTech yang Sustainable!

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensium