Opsi Hidangan Lokal Menjadi Budaya Kuliner Dampak Pandemi

Di masa pandemi ada alasan kuat melakukan transformasi isi menu makan karena bisa terjadi kelangkaan pangan.

Featured-Image
Kuliner

EMPATPAGI.COM - Kelangkaan ini disebabkan terganggunya rangkaian pasok atau berkurangnya ketersediaan bahan makanan impor.

Masalah kelangkaan pangan perlu dihadapi dengan serius oleh semua pihak. Perlu adanya upaya untuk menghindari kelangkaan bahan makanan selama masa pandemi.

Meskipun tidak banyak keluhan yang beredar di masyarakat, kebutuhan pangan selama masa pandemi harus dipersiapkan dengan baik.

Potensi hidangan lokal menjadi opsi isi menu karena tersedia meskipun gerak terbatas karena pandemi. Kuliner hidangan lokal ini perlu dilestarikan menjadi budaya kuliner di masa depan.

Budaya Kuliner Dampak Pandemi

1. Diversifikasi Pangan di Masa Isolasi Lokal atau Mandiri

Kuliner Jakarta
Kuliner Jakarta

Yang muncul saat ini adalah masyarakat melakukan diversifikasi pangan selama masa isolasi. Secara alamiah masyarakat melakukan diversifikasi pangan dengan menggunakan pangan lokal yang tersedia di wilayahnya masing-masing.

Diversifikasi pangan dengan menambahkan hidangan lokal kedalam menu bisa menjadi basis budaya kuliner di masa depan.

Baca: Model Bisnis Perusahaan Dan Perbankan Untuk Kemanusiaan di era Pandemi Covid -19

Tambahan hidangan lokal dalam menu tanda adanya peran pangan lokal untuk ketahanan pangan selama masa pandemi COVID-19.

Jumlah pangan lokal ini tersedia banyak dengan jenis beragam di tiap wilayah. Selain itu, kearifan lokal tentang pangan sudah ada di masyarakat Indonesia.

2. Penggunaan Hidangan Lokal Ketika Pandemi Dapat Menciptakan Budaya Kuliner di Masa Depan

RM. PUTRI (pergikuliner.com)
RM. PUTRI (pergikuliner.com)

Masuknya hidangan lokal kedalam menu dapat ditransformasikan dari kearifan lokal ke dalam budaya kuliner di masyarakat. Sehingga masyarakat terbiasa untuk mengkonsumsi pangan lokal.

Baca: Ini 5 Destinasi Wisata Jogja yang Kembali Dibuka Selama Pandemi

Transformasi opsi hidangan lokal menjadi isi menu makan merupakan diversifikasi pangan dan diperlukan untuk menguatkan pangan lokal di masyarakat.

3. Belajar Mengembangkan Hidangan Lokal Dari Masyarakat Jepang

5 Restoran Makanan Jepang Murah dan Enak, Nggak Nguras Dompet!
Ramen

Berkaca pada masyarakat Jepang yang rutin melaksanakan perayaan dengan mengkonsumsi pangan lokal yang ada di wilayahnya. Mereka biasa mengkonsumsi ubi jalar atau gandum yang dijadikan semacam kudapan istimewa.Dari Indonesia ubi jalar ungu adalah salahsatu bahan makanan favorit di Jepang.

Masyarakat secara bersama berpartisipasi untuk membuat makanan lokal dalam sebuah upacara perayaan rakyat. Hal ini contoh transformasi kearifan lokal dijadikan sebagai budaya kuliner nasional.

Baca: Konsumsi vs Investasi Di Masa Resesi Pandemi

Dampaknya saat pasar pasca bencana, para petani akan menanam bahan pangan lokal hingga meningkatkan perekonomian mereka. Transformasi menu makan adalah diversifikasi pangan yang harus dimulai dari rumah tangga.

Saat ini, keragaman menu makanan di Indonesia masih terbatas meskipun bahan pangan sangat beragam. Contohnya menu sarapan pagi, siang dan malam orang Jepang jenisnya sangat beragam.

Sedangkan orang Indonesia rata-rata hanya mengkonsumsi beberapa jenis menu makanan pada saat sarapan, makan siang dan makan malam. Ini ironis, padahal potensi hidangan lokal sangat banyak.

Pangan lokal juga merupakan potensi pendukung pariwisata. Penting juga untuk mentransformasikan potensi wisata hidangan lokal yang khas di daerahnya menjadi budaya kuliner nasional.

Indonesia memiliki banyak sekali destinasi wisata yang bisa digunakan sebagai media untuk mengenalkan bahan pangan lokal kedalam menu kuliner nasional pendukung pariwisata.

Baca: 15 Restoran Hits di Kelapa Gading, Ini Baru Namanya Surga Kuliner!

Baca: Tahu Lover? Ini 10 Kuliner Olahan Tahu Terenak di Jakarta dan Tangerang!

Baca: Serasa di Bali, Ini 5 Restoran di Jakarta yang Miliki Menu Makanan Khas Bali!

Komentar

Trending

asdasd
RegisterForgot Password
Ekstensium