Perang Dagang

Perang Dagang Amerika-Cina Diteruskan Dengan Tudingan Asal Virus Corona

Perseteruan dua negara raksasa dunia terus berlangsung.

Featured-Image
Ilustrasi negara cina (Unsplash/Nuno Alberto)

EMPATPAGI.COM -Pada tahun 2018 President Trump mulai mengancam akan menerapkan tarif pada barang dari Cina karena menganggap Cina melakukan perdagangan tidak adil dengan Amerika.

Segera setelah mulai nya Perang dagang, kedua negara telah melakukan serangkaian penerapan tarif barang impor.

Perang dagang dilakukan kedua belah fihak saling serang. Pembatasan masuknya teknologi asing, investasi dan pembatasan lainnya dilakukan.

Selama berbulan-bulan Amerika dan Cina telah beberapa kali melakukan negosiasi, melakukan perang tarif seimbang/'tit-for-tat' saling membatasi masuknya teknologi dan bersitegang dengan WHO, kemudian akhirnya perang dagang total.

Perang Dagang kemudian disambung dengan tuduhan bahwa virus Corona berasal dari Cina dan bagian dari skenario Cina untuk menyerang lawan.

Perang Dagang Antara Amerika dan Cina

A. Saling Menerapkan Tarif impor

Amerika telah mengenakan tarif sebesar US$550 milyar untuk barang Cina yang masuk ke Amerika. Sebaiknya Cina mengenakan tarif sebesar US$185 milyar untuk barang Amerika yang masuk ke Cina.

Kedua negara saling mengancam akan memberikan tindakan yang akan memberikan efek jera. Kedua fihak tidak terlihat ingin mengalah.

Baca: Target Ekonomi Indonesia Di Masa Covid 19

Memang akhirnya pada pertengahan January 15, 2020, ada tanda menuju damai dengan di tandatanganinya persetujuan tahap kesatu yang menurunkan tarif, meningkatkan perdagangan dan memperbaharui perjanjian hak intelektual, transfer teknologi, dan nilai tukar mata uang.

Cina berjanji membeli sebanyak US$200 milyar barang Amerika di tahun 2020.

B. Perdagangan Amerika Serikat Tetap Defisit

Defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok tetap setinggi sebelum Perang dagang.Data perdagangan Amerika- Cina di bulan Juli 2020 dibandingkan dengan Juli 2016, defisit tetap tinggi. Tingginya defisit malahan lebih banyak.

Trump bukan tidak berbuat apa-apa dengan adanya ketimpangan perdagangan dengan Cina. Terutama setelah terpilih sebagai presiden, mungkin Trump terlalu banyak berbuat dan menyerang.

Baca: Konsumsi vs Investasi Di Masa Resesi Pandemi

Ada atau tidak ada perang dagang, perdagangan Amerika - Cina tetap defisit. Ada atau tidak ada virus Corona, perdagangan Amerika - Cina ternyata juga tetap defisit.

Cina tidak tinggal diam. Cina ternyata selalu membalas apa pun hukuman dan serangan yang dijatuhkan oleh Amerika. Cina selalu melawan.

C. Presiden Trump Menyebut Namanya "virus Cina."

Cina kini sudah bisa hidup normal lagi. Industrinya berjalan lancar lagi. Padahal, negara seperti Amerika masih bergelut dengan virus Corona.

Datangnya wabah virus Corona telah menyebabkan ketegangan, lebih dari perang dagang. Amerika melihat ini sebagai serangan virus Corona yang ada hubungannya dengan serangan Cina. Terutama karena ke tidak terbukaan Cina dalam hal data dan asal muasal mengenai virus Corona ini.

Baca: Ekonomi Indonesia Kondusif Era Digital

Alasannya dikatakan bahwa pertama virus datang dari Cina. Sampai dengan pertengahan tahun 2020 telah menyerang 20 juta manusia di seluruh dunia.

Presiden Trump menyebut "virus Cina" beberapa kali di bulan Maret 2020. Kesengajaan menyebutkan "virus Cina" jelas terekam media.

Amerika menuduh Cina bersalah karena membuat dunia terancam risiko terserang virus Corona. Salah satu sebabnya, karena dianggap tidak adanya keterbukaan Cina mengenai asal muasal virus Corona.

Perselisihan kedua raksasa dunia kelihatannya belum akan berakhir. Meskipun serangan melemah dan tidak segencar sebelumnya, karena isu virus Corona.

Baca: Gaji ke-13 PNS sebagai Stimulus Fiskal

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensi.xyz