Tata Cara Mandi Wajib

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntutan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W

Sebagai seorang muslim, perlunya memiliki ilmu mengenai tata cara menghilangkan hadast besar sangat penting demi menjaga kesucian diri.

Featured-Image
Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Dengan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W

EMPATPAGI.COM- Mandi wajib dikarenakan Junub adalah aktifitas penyucian diri (Thoharoh) saat tubuh mengalami kondisi hadast besar. Kali ini kita akan menjelaskan secara keseluruhan tentang tata cara mandi wajib (al ghuslu). Semoga pembahasan kali ini bermanfaat bagi kita semua.

Niat sebagai Syarat Sahnya Mandi

Unsplash/Falaq Lazuardi
(Unsplash/Falaq Lazuardi)

Para ulama berpendapat bahwa fungsi niat adalah untuk membedakan antara aktifitas yang menjadi kebiasaan ataupun ibadah. Apalagi saat melakukan aktifitas mandi junub yang juga dibedakan dibedakan dengan mandi biasa. Cara membedakannya adalah dengan niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

                       إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi

a moslem reading the holy Quran in a low light room.
a moslem reading the holy Quran in a low light room. (Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Aktifitas mandi pada dasarnya adalah menyiram seluruh badan dengan air, dengan proses air harus mengenai rambut dan kulit.

Baca: Apakah Bunga Bank sama dengan Riba?

Seperti yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menjelaskan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

                  ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

“Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.”(HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani berpendapat,

               هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ

“Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh".

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

     أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.”(HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya menyiram seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Beliau mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ «لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».

“Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?”Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.”(HR. Muslim no. 330)

Jika seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asal disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi jika seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Aktifitas seperti berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) serta menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah hal yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.

Tata Cara Mandi yang Sempurna

Unsplash/christian buehner
(Unsplash/christian buehner)

Berikut penjelasan mengenai tata cara mandi yang disunnahkan. Jika hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi kita menjadi lebih sempurna. Dalil dari pembahasan ini adalah dengan dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم –أَنَّ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم –كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.”(HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Baca: Ini Dia 15 Ilmuan Muslim yang Terkenal Karena Penemuannya!

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم –مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).”(HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Berdasarkan dua hadits di atas, kita dapat mengurutkan dengan detil tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

  • Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran …Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”

  • Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang tersisa dengan tangan kiri.
  • Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’(membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”

  • Keempat: Berwudhu seperti ketika kita mau melakukan shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Barefoot at the beach
Barefoot at the beach (Unsplash/Michael Held)

Jika kita melihat hadits Maimunah sebelumnya, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu menyiram air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir.

Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau menyiram air ke seluruh tubuh.

Berdasarkan dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan.

Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita menyiram air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah.

Atau bisa saja kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”

  • Kelima: Menyiram kepala dengan air sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  • Keenam: Memulai dengan mencuci kepala bagian kanan, lalu pindah ke kepala bagian kiri.
  • Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم –إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.”(HR. Bukhari no. 272)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

“Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.”(HR. Bukhari no. 277)

  • Kedelapan: Menyiram air ke seluruh badan, mulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Hal ini berdasarkan dalil hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ –صلى الله عليه وسلم –يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Menyiram air ke seluruh tubuh cukup sekali saja sebagaimana zhohir(tekstual) hadits yang membicarakan masalah mandi. Dewasa ini adalah salah satu pendapat dari madzhabImam Ahmad yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Baca: Bagaimana Bisnis dan Investasi Terbaik Menurut Al-Quran?

Baca: Jihad Melawan Hawa Nafsu vs. Ingin Sukses Bisnis

Baca: Cobaan vs. Hikmah dari Pandemi Covid-19

Komentar

Trending

RegisterForgot Password
Ekstensium